FGD bertema disinformasi yang memicu kepanikan publik: analisis sentimen pemuda di Indonesia


Suasana diskusi kelompok terpumpun (FGD) hibrida yang dihadiri akademisi dan aktivis anti-hoaks di Malang, menampilkan peserta yang berdiskusi di meja panjang dengan layar monitor di latar belakang.

Malangdata.com.Hoak bertema politik, agama dan kesehatan kerap berkelindan di media sosial. Hoak menyebabkan kepanikan dan berdampak luas terhadap kalangan muda. Fakta ini terungkap dalam diskusi kelompok terpumpun (FGD) yang dilakukan tim peneliti Universitas Airlangga Surabaya di Malang pada Jumat, 13 Februari 2026. FGD diikuti akademisi, pemeriksa fakta, pegiat antihoaks, dan mahasiswa secara hibrida.

“Media sosial menjadi media penyebaran misinformasi karena rendahnya literasi digital,” kata aktivis mahasiswa antihoak asal Universitas Tribuana Tunggadewi, Nurul Asmalia. 

Pemuda, katanya, seringkali kurang memiliki literasi digital yang kritis. Sehingga rentan terhadap informasi yang tidak terverifikasi dan propaganda daring. Fenomena ini semakin terlihat pada momen krisis seperti pemilihan umum, dinamika politik, pandemi, maupun situasi darurat lainnya.

Pemuda di Indonesia menghadapi tantangan dalam membedakan antara fakta dan hoaks. Kelompok tertentu memanfaatkan algoritma media sosial untuk menyebarkan hoaks di media sosial. Studi juga mengevaluasi efektivitas analisis sentimen dalam mendeteksi konten yang berpotensi memicu kepanikan publik. 

Serta mengeksplorasi hubungan antara misinformasi dan konstruksi narasi, khususnya konten yang dibingkai sehingga menimbulkan respons emosional yang kuat di masyarakat. “Studi akan merumuskan rekomendasi dan intervensi untuk mencegah meluasnya kepanikan pada situasi krisis,” ujarnya.

Tiga peserta FGD di Malang sedang berdiskusi serius di depan laptop yang penuh stiker; bagian dari penelitian Universitas Airlangga mengenai disinformasi dan sentimen pemuda

FGD bertema disinformasi yang memicu kepanikan publik: analisis sentimen pemuda di Indonesia. Ketua peneliti Departemen Sosiologi Unair, Dr. Muhammad Saud menjelaskan studi bertujuan menganalisis sentimen di kalangan pemuda. Bertujuan melakukan deteksi dini terhadap misinformasi yang berpotensi memicu kepanikan publik di Indonesia. 

Disinformasi atau informasi menyesatkan, katanya, seringkali menimbulkan rasa takut, kecemasan, dan kebingungan. Sehingga memicu keresahan sosial bahkan memperluas kebencian di masyarakat. “Penyebaran yang cepat melalui media sosial berpotensi memperparah kepanikan publik serta mengganggu tatanan sosial,” katanya.

Studi mengembangkan rekomendasi yang akan mengintegrasikan analisis sentimen dengan deteksi misinformasi. Tujuannya mengidentifikasi dan menandai konten berbahaya sebelum tersebar secara luas. Peneliti juga menelusuri kronologi penyebaran konten misinformasi dengan mengindefikasi lima kasus utama. Tujuannya, melihat informasi palsu muncul, berkembang dan menyebar di berbagai platform media sosial. 

“Urgensi kajian terletak pada kebutuhan kolaboratif lintas disiplin terdiri atas Ilmu informasi, sosiologi, dan kerja kepemudaan. Memahami secara lebih mendalam dinamika misinformasi dan dampaknya terhadap masyarakat,” ujarnya. 

Secara teoritis, penelitian berpijak pada dua kerangka utama. Yakni teori pembingkaian (framing theory), yang digunakan untuk menganalisis bagaimana peristiwa atau isu diskonstruksi sehingga dapat memengaruhi persepsi public dan memicu kepanikan. Teori penularan emosi (emotional contagion theory) yang menjelaskan bagaimana emosi seperti rasa takut dan cemas dapat menyebar dari orang ke orang lain melalui jejaring social. Sehingga mempercepat eskalasi kepanikan akibat misinformasi. 

Penelitian diharapkan memberikan manfaat praktis bagi masyarakat, khususnya kalangan muda, akademisi, organisasi pemeriksa fakta dan pemerintah. Hasi penelitian dapat menjadi dasar untuk memperkuat strategi literasi digital, memperbaiki kebijakan, serta merumuskan langkah intervensi yang lebih responsif dalam menghadapi penyebaran misinformasi.

Dosen Universitas Multimedia Nusantara Samiaji Bintang menjelaskan sejak 2017, menjadi pengampu mata kuliah cek fakta. Kurikulum disiapkan secara paripurna hingga praktik cek fakta. Para mahasiswa juga membuat hasil periksa fakta dalam situs yang dikelola para mahasiswa.

“Mahasiswa dibekali keterampilan periksa fakta dengan perkakas yang relevan,” katanya secara daring. Salah seorang mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara Angel Senjaya bahkan mendapat pelatihan dan project dari Canal France International – Agence française de développement médias (CFI). 

“Kami dilatih skeptis,” katanya. Dalam praktiknya, ia meneliti dan menelusuri klaim perusahaan ramah lingkungan. Hasil penelusurannya secara daring, didapat fakta sejumlah perusahaan yang dinilai proper lingkungan ternyata menjadi pelaku perusakan lingkungan. Bahkan menjadi penyebab bencana banjir dan longsor di Sumatra.ekw/dr/jul

Penulis: Doddy Rizky

Editor: Julio Kamaraderry

Sumber: -

© 2025 Malangdata.com