Wayang Jemblungan Wujud Yayasan Nawadya Cita Nusantara Aksi Rumat Sumber Jaga Air Lestarikan Budaya

Arca batu yang mengenakan kain putih dan udeng, diletakkan di bawah payung kuning dengan sesaji makanan serta minuman sebagai simbol penghormatan ritual "Rumat Sumber".

Malangdata.com.Aksi budaya Yayasan Nawadya Cita Nusantara menggagas sebuah aksi rumat sumber, menjaga air melestarikan budaya. Sebuah gerakan bersama masyarakat Kota Batu untuk menghormati air ini sebagai peninggalan arkeologis yang diwariskan secara turun temurun. 

Mulai dengan menggelar tradisi slametan sumber, sebuah ritus sarat makna, nilai, dan tujuan. Tradisi slametan sumber merupakan penghormatan terhadap air yang berlangsung sejak Jawa Kuno. Slametan sumber merupakan upacara simbolis, yang menjadi sarana edukasi masyarakat untuk menjaga kelestarian air di Batu.

Serta pagelaran wayang jemblungan, menjadi media untuk mengedukasi dan menggali kembali sejarah dan kearifan lokal terkait sumber-sumber air di Kota Batu. Berbeda dari pertunjukan wayang purwa yang mengangkat kisah Mahabharata, Ramayana, dan Budaya Panji, wayang jemblungan menampilkan lakon lokal yang merefleksikan cerita rakyat, asal-usul toponimi, dan nilai kehidupan masyarakat setempat. 

Sekelompok warga duduk bersila di atas tikar sambil berdoa bersama di depan nasi tumpeng dalam rangkaian tradisi Slametan Sumber untuk menjaga kelestarian air di Kota Batu.

“Pertunjukan biasa digelar di tempat-tempat sakral. Seperti pundhen atau petren yang memiliki makna historis dan spiritual,” beber Ketua Yayasan Nawadya Cita Nusantara Syahrul.

Pementasan wayang jemblungan ini bekerja sama dengan Perkumpulan Bawarasa Pametri Budaya, sebuah komunitas budaya yang rutin menyelenggarakan pertunjukan wayang jemblungan sejak 2022. Pertunjukan akan dilanjutkan dengan diskusi partisipatif bersama masyarakat, untuk merekam memori kolektif, memperkuat identitas lokal, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian sumber air. 

“Sehingga menjadi sarana hiburan, sekaligus instrumen pemberdayaan budaya dan lingkungan,” katanya. 

Pelestarian lingkungan dengan pendekatan kebudayaan, karena memiliki peran penting membentuk kesadaran sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. 

Suasana diskusi antara Yayasan Nawadya Cita Nusantara dengan masyarakat di sebuah ruangan untuk membahas pendataan toponimi dan pemetaan sumber mata air.

Selain itu, Yayasan Nawadya Cita Nusantara akan mendata toponimi sumber air. Tujuannya untuk menggabungkan pendekatan ilmiah dengan pelestarian identitas kultural melalui pencatatan nama-nama lokal sumber air. Disertai sejarah, vegetasi asli, dan narasi masyarakat setempat.

 “Sumber Dhampul (Ficus lepicarpa) di Desa Tulungrejo, Bumiaji diyakini berasal dari pohon dhampul yang dulu banyak di sana,” ungkapnya.

Namun, kini pohon dhampul sudah tidak lagi ditemukan di kawasan itu. Pendataan semacam ini menjadi penting untuk menggali kembali identitas ekologis dan budaya desa, yang mulai terlupakan. Mereka juga melatih kader lingkungan untuk turut menanam pohon, merawat dan menjaga di sejumlah kawasan sumber mata air di Batu.

Aksi ini berkolaborasi dengan komunitas Kaliku, yang berpengalaman dalam pemetaan partisipatif dan advokasi pelestarian sumber daya air. Aksi ini dilakukan lantaran sumber mata air di Batu terus menyusut. Semula 111 titik sumber air, kini hanya tersisa 57 titik. Sebagian besar debut sumber mata air menurun, bahkan sebagian mati dan tercemar.

Padahal sumber mata air dibutuhkan warga Batu yang sebagian besar bekerja sebagai petani. 
Apalagi secara geografis, Kota Batu berada di dataran tinggi dengan ketinggian 680 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dikelilingi Gunung Panderman, Gunung Arjuno, dan Gunung Welirang yang menciptakan alam yang indah, tanah subur dan iklim sejuk.ekw/dr/jul

Penulis: Doddy Rizky

Editor: Julio Kamaraderry

Sumber: -

© 2025 Malangdata.com

Facebook SDK

Ads1

Boxed Version

Ads2