komitmen Nawadya kembalikan kawasan Tangkapan Air Dengan Menanam. Agar Sumber Air Terjaga dan Lestari.

Aktivitas Yayasan Nawadya bersama relawan menanam pohon di kawasan hulu DAS Brantas untuk mengembalikan area tangkapan air.

Malangdata.com.Aksi Yayasan Nawadya Cita Nusantara bersama Lembaga Masyarakat Adat, juru pelihara sumber, dan kelompok tani hutan menanam pohon di tiga sumber kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Meliputi Sumber Belik Sumo Desa Bulukerto, Sumber Dampul dan Sumber Kali Ledok Ombok, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Sekitar 100-an bibit pohon aneka jenis ditanam untuk menjaga sumber mata air di Kota Batu.
 
"Sumber air ini menghidupi warga sekitar. Sekaligus menjadi tempat ritus dan dimanfaatkan untuk upacara adat dan agama," kata Ketua Yayasan Nawadya, Syahrul Hadiyatullah, Ahad, 19 April 2026. 

Air, katanya, merupakan sumber kehidupan yang harus tetap dijaga. Sedangkan pohon berperan penting menyerap air ke dalam tanah. Untuk itu, Nawadya berkomitmen mengembalikan kawasan tangkapan air dengan menanam. Agar sumber mata air di Kota Batu tetap menjaga dan lestari. 

Apalagi, warga Batu dan Kota Malang menggantungkan pasokan air dari sumber mata air di Batu.
Nawadya mengutamakan menanam pohon endemik yang langka. Selain itu, sejumlah pohon merupakan toponimi atau asal usul nama desa di Batu. Seperti Sumber Dampul, katanya, dulu merupakan kawasan yang dipenuhi pohon dampul (Ficus lepicarpa). 

POhon dampul merupakan pohon yang berfungsi mencegah erosi dan menyediakan naungan. Bersifat sebagai pohon peneduh. 
Pohon ini, katanya, tangguh untuk reklamasi lahan kering. Sedangkan serasah daun cepat terurai dan memperbaiki sifat butiran (granulasi) tanah. Genus Ficus dikenal sebagai spesies kunci dalam ekosistem hutan, berperan penting menjadi habitat beragam jenis satwa liar termasuk burung. 

Suasana Sumber Dampul di Desa Tulungrejo dengan kolam ikan dan Pelinggih umat Hindu, area ritus yang dijaga kelestariannya

Menurut Ketua RW 16 Tulungrejo, Suwito menuturkan pohon Dampul di Sumber Dampul mati dan tumbang pada awal 2000-an. Saat itu, katanya, debit air sumber Dampul juga mengecil. Lantas, ia bersama warga setempat kembali menanam pohon dan membersihkan kawasan tersebut. Beragam pohon buah ditanam untuk menjaga dan melestarikan sumber. 

"Sumber nyaris mati," ujarnya.
 Warga juga mempercayai kawasan Sumber Dampul angker. Tak banyak yang berani menjamah, setelah dibersihkan dan ditanami warga juga membuat kolam. Air dari sumber dialirkan kolam yang menjadi habitat ikan hias. Selain itu, warga yang beragama Hindu juga membangun Pelinggih, atau tempat pemujaan di dekat sumber mata air.

"Umat Hindu mengambil air dibuat ritual seperti saat melasti, dan penyucian pertima atau sarana pemujaan," katanya. 

Sejumlah pohon berukuran raksasa tetap tegak berdiri, menjadi peneduh. Sedangkan beberapa pohon mati karena usia dan tersambar petir. Suwito tak tahu persis berapa umur pohon tersebut, diperkirakan lebih dari 100 tahun. Sumber tersebut, dulu dikenal dengan sebutan Besta sebutan tanaman kopi rebusto. Lantaran kawasan tersebut dulu berupa perkebunan kopi robusta (Coffea canephora) dan Kina (Cinchona, sp).ekw/jul

Penulis: Doddy Rizky

Editor: Julio Kamaraderry

Sumber: -

© 2026 Malangdata.com

Facebook SDK

Ads1

Boxed Version

Ads2