![]() |
| Pelaku budaya yg dipimpin pendiri Sekolah BudayaTunggulwulung Gus Kholiq didampingi EO budayaWES dan Ki Demang audensi dengan komisi D DPRD Ginanjar |
Malangdata.com.Puluhan pelaku budaya kota Malang"geruduk" (datangi) gedung wakil rakyat DPRD kota Malang . Kehadiran mereka terkait pakaian khas Kota Malang yang di diperkenalkan bertepatan peringatan HUT ke 112 Kota Malang 1April 2026 lalu.perwakilan pelaku budaya itu menilai bahwa kebijakan tersebut tidak melalui proses partisipasi publik yang memadai, serta dinilai mencederai nilai budaya lokal yang egaliter.
“Ngapunten Kami hadir bukan untuk menghambat program pemerintah, tetapi memastikan identitas Malang lahir dari proses kebudayaan yang jujur, bukan keputusan sepihak,” ujar Kholiq Nuriadi dari pendiri Sekolah Budaya Tunggulwulung.
Bahkan Gus Kholiq sapaan sesepuh Tunggulwulung tersebut hadir bersama sejumlah pelaku budaya Kota Malang menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pakaian khas daerah yang ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota untuk direvisi . Bukti Sangking cintanya pada bhumi Arema wujud Penolakan itu untuk direvisi hal tersebut hanya untuk ASN bukan pakaian adat warga bhumi arema sehingga wajib disampaikan dalam audiensi bersama Komisi D DPRD Kota Malang, Kamis (9/4/2026).
![]() |
| Pengamat dan pelaku Budaya asli Tunggulwulung Mbah Khoi ikut suarakan produk lokal budaya malangan yg perlu dijaga dan dipelihara |
Dalam audiensi tersebut, para pelaku budaya menyoroti lemahnya transparansi dan minimnya pelibatan komunitas akar rumput dalam perumusan desain pakaian khas daerah. Mereka menyebut proses yang dilakukan pemerintah hanya melibatkan segelintir pihak melalui forum terbatas.
“Kami tidak dilibatkan secara luas. Padahal banyak komunitas budaya yang selama ini konsisten merawat tradisi, tapi justru diabaikan,” timpal Ki Demang Polowijen, Pendiri kampung Topeng Poliwijen itu tegas.
Lebih jauh ki Demang berikan kritik pada filosofi desain yang dinilai menciptakan sekat sosial. Pembedaan atribut berdasarkan strata dinilai bertentangan dengan karakter masyarakat Malang yang menjunjung tinggi kesetaraan atau semangat Aremanisme.
Hal senada juga disampaikan pelaku Budaya asal Tlogomas Mbah Priyo Sunanto Sudhi
![]() |
| Salah satu nguri nguri budaya Tunggulwulung yang wajib dilaksanakan tiap bersih desa disejumlah sumber |
“Pakaian seharusnya menjadi simbol pemersatu, bukan justru menciptakan jarak antara pemerintah dan masyarakat,” tutur pelaku budaya asal Tlogomas mantan wakil rakyat itu lebih kritis.
Pelaku budaya lainnya yang tak kalah tegasnya mbah Karjo Pusposariro asal Dinoyo juga menilai terdapat kegagalan komunikasi publik dalam sosialisasi kebijakan tersebut. Mereka meminta pemerintah membuka ruang dialog yang lebih luas melalui forum resmi seperti kongres kebudayaan atau seminar terbuka.
“Kalau komunikasi sejak awal terbuka, polemik seperti ini tidak akan terjadi,” ujar dalang wayang suket itu yakin .
Terpisah pelaku juga pengamat pendidikan budaya mataram baru asli Tunggulwulung yang biasa disapa Mbah Khoi itu menambahkan bahwa komunitas budaya Malangan ,sejarawan asli Malang atau mengenyam pendidikan tinggi di kota Malang sangat banyak dan beragam mestinya diajak urun rembuk sebagai wujud"nguwongke "sesepuh ato tokoh masyarakat bhumi Arema yang mencakup malangraya,
"Karena itulah muncul kritikan yang dianggap pedas yang menyasar substansi yang urgen yakni desain yang dinilai lebih mengarah pada gaya kolonial dan tidak merepresentasikan identitas lokal Malang secara autentik.
![]() |
| Udeng dan pakaian adat khas malangan yang dipakai pelaku budaya sumbersari Suko Waluyo tipikal setia pelestari pakaian adat malangan yg terus dijaga |
“Desainnya tidak mencerminkan karakter budaya Malang yang sesungguhnya. Ini harus dikaji ulang termasuk paparan kasta yang ada kesan pemisahan antara pejabat kalangan atas dengan pegawai kalangan menengah dan bawah ,kalau boleh beri masukan itu cocok untuk ASN ,bukan baju adat malangan yang lahir dari masyarakat yg enak dipakai dan perlu jadi ciri khas wong malang yang membanggakan dan perlu dipelihara dan dijaga , kalaupun ada perbedaan bukan dimotif atau desain ,,tapi bahan karena keterjangkauan harga, untuk itu para pelaku budaya mohon pada dinas terkait atau forum penggagas hingga sk pakaian khas malang lahir itu direvisi bukan untuk warga bhumi arema tapi ASN agar pelaku budaya gak merasa gerah karena tak dilibatkan dan diajak ikut melahirkan ,biarkan pelaku budaya,komunitas ,akademisi asli Malang, sepuh pini sepuh dan tokoh masyarakat Bhumi arema lahirkan sendiri pakaian adat Malangan tanpa tekanan ,serta sesuai harapan dan kenyataan sejarah Malang raya yang terwujud dikelilingi kerajaan kecil maupun besar seperti kanjuruhan dan Singosari ," beber pelaku budaya sumber itu blak-blakkan.
Sebagai solusi, tambah Gus Kholiq bahwa pelaku budaya mengusulkan konsep alternatif seperti “Panca Warna” yang merepresentasikan lima kecamatan di Kota Malang, sebagai simbol keberagaman dan pemerataan identitas budaya.
Di akhir audiensi, mereka secara tegas menyampaikan tuntutan utama agar SK Wali Kota tentang pakaian khas daerah dicabut atau direvisi untuk asn atau warga bhumi arema ,selain itu proses penetapan identitas budaya dilakukan melalui konsensus bersama.
“Kami menuntut pencabutan SK tersebut atau direvisi hingga jelas tegas dan meminta penentuan identitas daerah dilakukan secara kolektif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Gus Kholiq lagi.
Sementara itu anggota Dewan dari Komisi D Ginanjar Yoni menjawab secara singkat akan didorong untuk win -win Solusion dengan pertemuan berikutnya ."kami menampung semua aspirasi dari pelaku budaya dan komunitas masyarakat budaya peduli Kota Malang.untuk itu kami jadwalkan ada audensi berikutnya untuk mendapat jawaban sesuai yang diharapkan bersama," papar politisi asal FGerindra itu optimis.riz/jul/yun/ri
Penulis: Doddy Rizky
Editor: Julio Kamaraderry
Sumber: -
© 2026 Malangdata.com




