![]() |
| Catatan : Dewan Sepuh Tunggulwulung |
Malangdata.com, - Rangkaian Bersih Desa di Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang kembali digelar. Bagi warga setempat, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Bersih Desa dimaknai sebagai titah leluhur, warisan adat budaya yang dilaksanakan turun-temurun sebagai bentuk bakti kepada tanah kelahiran.
“Bagi kita sebagai generasi penerus, ikut serta dalam giat Bersih Desa adalah kehormatan, bukan beban. Ini adalah panggilan jiwa untuk sadar bertempat tinggal di kampung halaman,” tulis Anggota Dewan Sepuh Tunggulwulung dalam refleksi kegiatan.
Bersih Desa di Tunggulwulung dipahami sebagai wujud syukur kepada Sang Maha Pencipta, penghormatan kepada para leluhur, bentuk menyayangi bumi, serta merawat rasa persaudaraan antar warga.
![]() |
| Nico Ketua panitia grebeg Suro dan M khoiri Penasihat grebeg Suro beri paparan ke media |
*9 Rangkaian Sakral Bersih Desa Tunggulwulung*
Seluruh rangkaian kegiatan di Tunggulwulung merupakan satu kesatuan sakral yang tidak bisa dipisahkan. Masing-masing memiliki makna filosofi mendalam:
*1. Pemasangan Janur Kelapa*
Dilakukan serentak di perbatasan wilayah, pertigaan, perempatan, dan gang-gang kampung.
_Makna_: Pernyataan niat suci dan tekad bulat warga untuk melanjutkan warisan adat para leluhur.
![]() |
| Lurah Tunggulwulung foto bersama mahasiswa KKN UM-BBM ikut sukseskan puncak bersih desa |
*2. Nyegoro Gunung*
Ziarah dan sowan kepada leluhur agung di laut, darat, dan gunung untuk memohon restu.
_Makna_: "Njogo banyu, njogo desa, njogo laku". Dilakukan oleh para sesepuh, pinisepuh, dan ajisepuh Tunggulwulung.
*3. Kerja Bakti Massal dan Penanaman Pohon*
_Makna_: "Sembah angin". Mantesi bumi agar lebih bersih dan sejuk dengan penghijauan.
![]() |
| gelar seni warga Tunggulwulung membuat undangan tak beranjak duduk hingga selesai |
*4. Matirta*
Kerja bakti merawat sumber air, membersihkan sungai dan selokan, serta membuat sumur resapan.
_Makna_: "Sembah air". Agar saat penghujan tidak banjir dan saat kemarau tidak kekeringan.
*5. Napak Tilas / Pawai Obor*
Keliling kampung malam hari membawa obor.
_Makna_: "Sembah api". Menerangi kegelapan agar keamanan dan kenyamanan warga terjamin, sekaligus tolak bala.
![]() |
| Ki Rendy Sesepuh pendiri Pandang Bulan komunity Tunggulwulung beri wejangan |
*6. Barikan*
Makan bersama seluruh warga dengan hasil pertanian di tempat-tempat yang disakralkan. Pemimpin pemerintahan hadir berpindah dari satu titik sakral ke titik lain.
_Makna_: "Sembah tanah". Wujud syukur atas limpahan rezeki dari Sang Pencipta.
*7. Karnaval / Pawai Budaya*
Warga menampilkan tarian, gamelan, pencak silat, patrol, dan cerita perjuangan leluhur secara swadaya.
_Makna_: Adat budaya adalah karya leluhur yang harus diuri-uri dan dilestarikan agar menjadi jati diri bangsa. "Ajine bongso soko budoyo".
![]() |
| Para sepuh pini sepuh termasuk ketua Lima RW Tunggulwulung hadir dan sukseskan puncak grebek suro 1448 Hijriah |
*8. Kembul Bujono dan Atraksi Budaya*
Makan bersama seluruh warga sambil menikmati pertunjukan yang disiapkan pemerintah kelurahan.
_Makna_: Wujud terima kasih pemimpin kepada warga yang telah bekerja dengan niat murni, ditutup dengan doa bersama agar Bersih Desa berikutnya berjalan lancar.
*9. Membersihkan Janur dan Nyegoro Gunung Penutup*
Sebagai penutup seluruh rangkaian.
*Refleksi: Tata, Titi, Tentrem*
Dalam refleksinya, Dewan Sepuh Tunggulwulung berpesan agar yang baik terus dikembangkan, yang kurang diperbaiki.
“Tidak ada kekecewaan, tidak perlu persaingan atau permusuhan. Jika bisa memberi jalan, berilah jalan. Jika bisa mempermudah, permudahkanlah. Jangan pernah menghalangi atau merusak apa yang sudah dibangun orang lain,” pesannya.
Bagi warga Tunggulwulung, Bersih Desa merangkum 4 nilai utama:
1. Berterima kasih dan bersyukur kepada Sang Maha Pencipta
2. Menghormati para leluhur
3. Menyayangi dan bersahabat dengan alam semesta
4. Merawat kebersamaan dan persaudaraan dalam bingkai cinta kampung halaman
“Warga yang bersyukur desanya berkah. Desanya bersih, warganya tentrem,” tutupnya.
_Tata, Titi, Tentrem_ disebut sebagai nilai yang diajarkan para leluhur dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.(dr/jul)
Penulis: Doddy Rizky
Editor: Julio Kamaraderry
Sumber: -
© 2026 Malangdata.com





