Tradisi Bari'an 5 RW Sambut Grebeg Suro dan Hasil Bumi Warga Tunggulwulung: Kampung Adat Mulai Terbentuk

Sesepuh dan tokoh masyarakat RW 01 Tunggulwulung salah satunya Gus Khoiri tengah  dan paling kanan ketua RW01 Ny Ririn saat Bari'an grebek Suro di Petren optimis Kearifan lokal terangkat

Malangdata.com – Nguri-uri budaya, warga Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru nampak khusyuk. Masyarakat yang hadir tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang telah menjadi tradisi tahunan tersebut. Berlangsung di Pendopo Purwo Tunggulwulung, acara dimulai dari RW 01, dilanjutkan ke RW 02, 03, 04, hingga RW 05 sampai malam hari.

Greg Suro tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas berbagai nikmat dan rezeki yang diterima, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus memperkuat kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat.

Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, mengapresiasi konsistensi masyarakat Kelurahan Tunggulwulung yang terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya lokal. Menurutnya, kegiatan seperti Grebeg Suro memiliki nilai penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Ibu-ibu Warga RT 10 RW 01 Tunggulwulung  rayakan grebek Suro eratkan silahturahmi

Bari'an dengan arak-arakan tumpeng hasil bumi menjadi daya tarik utama tradisi budaya Grebeg Suro 2026 yang digelar mulai dari petren RW 01 dan RW 02, lalu berlanjut ke RW 03 dan RW 04, hingga dipuncaki di Pendopo Purwo Tunggulwulung RW 05, Kecamatan Lowokwaru, Minggu (22/6/2026). Kegiatan yang dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin tersebut menjadi bagian dari perayaan masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

“Tradisi seperti Grebeg Suro ini harus terus kita jaga dan lestarikan. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan, memperkuat semangat gotong royong, serta menjaga warisan budaya yang menjadi kekayaan Kota Malang," ungkap Ali mantap.

"Kami setuju kalau ada arah untuk pembentukan kampung adat dengan dewan adat di Kelurahan Tunggulwulung maupun di Kecamatan Lowokwaru demi melestarikan dan menjaga budaya yang sudah ada. Tujuannya untuk mempersatukan warga, rukun, gotong royong tanpa pandang bulu agama maupun ras, bersatu padu membangun kearifan lokal,” lanjutnya.

Nampak Ki Kholig sesepuh dan pendiri Sekolah Budaya Tunggulwulung

Salah satu rangkaian utama kegiatan tersebut adalah arak-arakan 12 tumpeng besar serta puluhan tumpeng sedang dan kecil berisi hasil bumi yang dibawa oleh warga dari berbagai wilayah di Kelurahan Tunggulwulung. Tumpeng-tumpeng yang berisi aneka hasil pertanian tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas keberkahan dan hasil usaha yang telah diperoleh selama ini.

Selain arak-arakan tumpeng, Grebeg Suro 2026 di Tunggulwulung juga dimeriahkan dengan pagelaran pertunjukan seni tradisional Tari Beskalan. Seni tradisional tersebut berhasil menarik perhatian masyarakat yang memadati area pendopo hingga malam hari.

Rendy, sesepuh Kelurahan Tunggulwulung, menilai kegiatan budaya yang tumbuh dari masyarakat seperti Grebeg Suro perlu terus mendapat dukungan karena memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Wawali Ali Muthohirin bersama sesepuh  Tunggulwulung dan Anggota dewan rayakan grebek Suro 1448 Hijriah

“Untuk itu kami berharap ada audiensi pembentukan Dewan Adat Mahkota Tunggulwulung. Harapannya, budaya adalah salah satu kekuatan yang dimiliki Kota Malang. Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar tetap mencintai budaya daerahnya dan tetap terjamin keberlangsungannya,” beber Rendy.

Melalui penyelenggaraan Grebeg Suro 2026, masyarakat Kelurahan Tunggulwulung berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini dapat terus lestari dan berkembang. Semangat kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan tersebut diharapkan membawa keberkahan, kemajuan, dan kesejahteraan bagi seluruh warga dalam menyambut Tahun Baru.

Terpisah, Ginanjar, anggota Komisi D DPRD Kota Malang, menyambut baik jika di Tunggulwulung terbentuk dewan adat hingga kampung adat untuk mempersatukan warga semua golongan dalam membangun kearifan lokal hingga pemberdayaan warga yang membersamai budaya adiluhung.

"Audiensi warga, sesepuh, dan tokoh masyarakat bersama Sekolah Budaya Tunggulwulung kami tunggu untuk merealisasikannya," pungkas politisi Gerindra tersebut optimis. (riz/jul)

Penulis: Doddy Rizky

Editor: Julio Kamaraderry

Sumber: -

© 2026 Malangdata.com