​Mengulas Konsep Tata Titi Tentrem dalam Pengelolaan HIPPAM Amreta Krajan Lawas, Kelurahan Tunggulwulung

Catatan Dewan Sepuh Tunggulwulung

​Sekilas Sejarah

​Malangdata.com — Berdasarkan rujukan dalam Kitab Serat Jangka Jayabaya dan Serat Pararaton, Prabu Sri Aji Jayabaya selaku Raja Kediri abad ke-12 Masehi mewariskan ajaran pokok kepemimpinan yang kemudian dilestarikan secara lisan oleh para wali, ulama, dan sesepuh Tanah Jawa. Ajaran tersebut berbunyi Tata Titi Tentrem, dengan rumusan:

"Tanpa tata, titi akan kacau... Tanpa titi, tentrem tidak akan datang."

  1. Tata: Adanya aturan, sistem, kelembagaan, dan kepemimpinan yang jelas. Makna kontekstualnya adalah terwujudnya tata kelola yang baik (Good Governance).
  2. Titi: Adanya pelaksanaan yang tertib, cermat, tepat waktu, dan tepat sasaran. Makna kontekstualnya adalah penerapan akuntabilitas dan efisiensi.
  3. Tentrem: Terwujudnya ketenteraman, kesejahteraan, serta kedamaian lahir dan batin. Makna kontekstualnya adalah terciptanya kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik yang optimal.
Tata Wujud guyup penataan kelembagaan masyarakat yang baik jelas benar dan tegas

​Konsep Tata Titi Tentrem hari ini kita gunakan sebagai pedoman membangun peradaban karena pembangunan harus dimulai dari sistem yang benar, dilaksanakan dengan tertib, dan bermuara pada kesejahteraan bersama.

​Konsep ini juga kita jadikan sebagai dasar moral serta spiritual dalam pengelolaan HIPPAM Amreta Krajan Lawas, Tunggulwulung, agar senantiasa lestari dan bermanfaat.

​Apalagi, Ki Ageng Tunggulwulung adalah sosok tokoh penerus ajaran Prabu Sri Aji Jayabaya yang sekaligus merupakan ayahanda dari Ibu Dewi Nawangsih. Oleh karena itu, sudah sangat tepat jika kita berpedoman pada konsep Tata, Titi, Tentrem dalam menjalankan operasional HIPPAM di Tunggulwulung.

Titi wujud teliti tepat sasaran dan tidak boros mengelolah air Hipam

​Rumusan Utama

Tata Kelola yang Baik + Distribusi yang Tepat = Warga Tentram

​Air adalah sumber kehidupan. Tanpa pasokan air yang cukup dan bersih, warga tentu tidak mungkin hidup tenteram. Membangun HIPPAM bukan sekadar soal urusan pipa dan tandon, melainkan tentang membangun sistem, kejujuran, dan kebersamaan.

​Uraian Riil

  • Tata: Membangun sistem kelembagaan HIPPAM yang kuat. Artinya, segala sesuatu harus memiliki aturan dan struktur pengelola yang jelas.
    • Wujudnya: Memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), struktur kepengurusan yang jelas, pembukuan transparan, musyawarah rutin, serta ketaatan terhadap aturan.
  • Titi: Mengelola air dengan cermat, tepat, dan hemat. Artinya, pengoperasian dilakukan secara teliti, tepat sasaran, dan tidak boros.
    • Wujudnya: Distribusi air tepat waktu, pencatatan meteran yang jujur, respons perbaikan yang cepat, pembayaran iuran tepat waktu, serta gerakan hemat air bersama. Tanpa sifat titi, air akan mubazir, kas organisasi tekor, dan anggota pun akan melayangkan protes.
Tentrem wujud warga aman dan nyaman karena air bersih lancar rejeki menuju keluarga sehat dan mandiri
  • Tentram (Capaian Tujuan): Warga sehat, rukun, dan nyaman. Tentrem adalah buah manis dari kedisiplinan menjalankan tata dan titi.
    • Wujudnya: Pasokan air lancar 24 jam, kesehatan keluarga terjaga, nihil konflik, serta HIPPAM yang mandiri dan terus berkembang.

​Membangun HIPPAM pada dasarnya sama dengan membangun kelurahan; yang terpenting adalah keseriusan dan kesungguhan, bukan sekadar mengejar jabatan, memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi), serta taat pada aturan yang berlaku—sebagai contoh konkret, seorang pengurus lembaga kemasyarakatan hendaknya menjaga netralitas dan tidak merangkap sebagai pengurus partai politik.

(Tata kelolanya tepat, titi pelayanannya, tentrem hasilnya)

Penulis: Ki Kholiq Nariadi (Pendiri Sekolah Budaya Tunggulwulung)

Editor: Dr/jul

Sumber: -

© 2026 Malangdata.com