Memahami Hukum Lingkungan dari Perut Bumi: Mahasiswa UWG Eksplorasi Sungai Bawah Tanah Gua Coban Perawan

Penyerahan sertifikat kompetensi pemandu wisata gua oleh Ketua LPPM UWG kepada perwakilan warga lokal di mulut Gua Coban Perawan, disaksikan mahasiswa peserta susur sungai

Malangdata.com – Universitas Widya Gama (UWG) Malang menggelar Experiential Learning Class (ELC) di kawasan Gua Coban Perawan, Minggu (5/7). Program ini dirancang untuk mengubah pola pikir mahasiswa dari pendengar pasif menjadi pelaku aktif melalui pembelajaran berbasis pengalaman nyata di lapangan.

​Selama ini, pemahaman mahasiswa cenderung terbatas pada fungsi hutan darat sebagai penghasil oksigen dan penyerap karbon. Padahal, ekosistem bawah tanah dan kawasan karst memiliki peran yang tidak kalah krusial. Karst bukan sekadar penyimpan cadangan air, melainkan juga rumah bagi mahakarya speleothem yang terbentuk selama ratusan tahun.

​"Mahakarya ini adalah hasil kerja sama antara air, batu kapur (kalsium karbonat/CaCO₃), karbon dioksida (CO₂), dan waktu. Air hujan yang mengandung CO₂ menjadi sedikit asam, melarutkan batu kapur saat meresap ke dalam tanah. Saat air menetes ke dalam gua dan melepaskan CO₂, kalsium karbonat akan mengendap sedikit demi sedikit hingga membentuk ornamen gua. Proses ini berlangsung sangat lambat, umumnya hanya 0,01–3 mm per tahun, bergantung pada suhu, kelembapan, mineral, dan laju tetesan air," jelas Purnawan, dosen pengampu kegiatan tersebut.

​Di tengah ancaman kerusakan akibat ekspansi tambang, keberadaan bentang alam ini memicu urgensi mengenai kepastian regulasi. Kuliah lapangan ini pun menyoroti sejauh mana hukum lingkungan mampu melindungi kawasan karst dan bagaimana efektivitas penegakannya di lapangan.

Suasana di dalam zona gelap Gua Coban Perawan, di mana pemandu lokal (Pak Izar) memberikan penjelasan mendalam kepada mahasiswa yang mengenakan pelampung dan headlamp

​Selain aspek hukum, kegiatan ini juga mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, rasa cinta tanah air, dan nilai-nilai religius. Saat berada di "zona gelap abadi" di dalam gua, mahasiswa diajak untuk mematikan lampu penerangan. Dalam suasana gulita yang mencekam, Pak Izar, warga lokal sekaligus penyuluh agama berprestasi tingkat nasional yang hadir sebagai dosen tamu, memberikan refleksi mendalam mengenai nilai spiritualitas kehidupan yang dikaitkan dengan kedalaman gua.

Hasil Nyata Program PPK Ormawa

Keberhasilan kegiatan ini merupakan buah manis dari Program Penguatan Kapasitas (PPK) Ormawa UWG tahun 2023 di Desa Sidodadi. Rintisan Eco-eduwisata Susur Sungai Bawah Tanah Coban Perawan yang mempertemukan pihak kampus dengan Asesor Pemandu Gua telah terjalin berkelanjutan hingga tahun 2026.

​Sebagai puncak acara, dilakukan penyerahan sertifikat kompetensi pemandu wisata gua kepada empat warga desa setempat. Sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Kepala LPPM UWG, Prof. Dr. Fachrudin, di mulut gua pada Sabtu (4/7). Sertifikasi ini menjadi legalitas resmi bagi pemandu lokal dalam mengelola potensi wisata edukasi tersebut dengan standar keamanan yang mumpuni.

ekw/dr

Penulis: Doddy Rizky

Editor: Julio Kamaraderry

Sumber: -

© 2026 Malangdata.com