Walikota Apresiasi Tradisi 11 Tumpeng Hasil Bumi Warga Cemorokandang Sambut Tahun Baru Islam

Wali Kota Malang Wahyu tandai Grebeg Suro Cemorokandang berikan nasi Tumpeng ke Dalang Ki Andi Bayu Sasongko yang disaksikan camat kedungkandang Fahmi Fauzan serta Dewan cermin keberkahan ,kemajuan ,kesejahteraan warga sambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Malangdata.com – Warga Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, nampak khusyuk mengikuti jalannya tradisi tahunan Grebeg Suro. Masyarakat yang hadir tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Grebeg Suro tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas berbagai nikmat dan rezeki yang diterima, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus memperkuat kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat.

​Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengapresiasi konsistensi masyarakat Kelurahan Cemorokandang yang terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya lokal. Menurutnya, kegiatan seperti Grebeg Suro memiliki nilai penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

​Pagelaran seni wayang kulit dan arak-arakan 11 tumpeng hasil bumi menjadi daya tarik utama tradisi budaya Grebeg Suro 2026 yang digelar di Pendopo Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Selasa (16/6/2026). Kegiatan yang dibuka langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, tersebut menjadi bagian dari perayaan masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

​“Tradisi seperti Grebeg Suro ini harus terus kita jaga dan lestarikan. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan, memperkuat semangat gotong royong, serta menjaga warisan budaya yang menjadi kekayaan Kota Malang,” ungkap Wahyu.

​Salah satu rangkaian utama kegiatan tersebut adalah arak-arakan 11 tumpeng hasil bumi yang dibawa oleh warga dari berbagai wilayah di Kelurahan Cemorokandang. Tumpeng-tumpeng yang berisi aneka hasil pertanian tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas keberkahan dan hasil usaha yang telah diperoleh selama ini.

​Selain arak-arakan tumpeng, Grebeg Suro 2026 di Cemorokandang juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh Ki Andi Bayu Sasongko dari Sanggar Seni Suko Budoyo. Pertunjukan seni tradisional tersebut berhasil menarik perhatian masyarakat yang memadati area pendopo hingga malam hari.

​Wahyu menilai kegiatan budaya yang tumbuh dari masyarakat seperti Grebeg Suro perlu terus mendapat dukungan karena memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

​“Budaya adalah salah satu kekuatan yang dimiliki Kota Malang. Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar tetap mencintai budaya daerahnya,” bebernya.

​Melalui penyelenggaraan Grebeg Suro 2026, masyarakat Kelurahan Cemorokandang berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini dapat terus lestari dan berkembang. Semangat kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan tersebut diharapkan membawa keberkahan, kemajuan, dan kesejahteraan bagi seluruh warga dalam menyambut Tahun Baru. (riz/jul)

Penulis: Doddy Rizky

Editor: Julio Kamaraderry

Sumber: -

© 2026 Malangdata.com